DOLLAR MENGUAT DI PASAR ASIA

Dolar Amerika Serikat berjaya. Awal pekan ini dolar berhasil menumbangkan hampir seluruh mata uang di kawasan Asia Pasifik.

Rupiah sendiri senasib dengan kawan-kawan regionalnya, melemah 0,20% menjadi Rp11.446,3 per dolar AS di Bloomberg Dollar Index pada penutupan pasar

USD

Sementara pantauan Financeroll saat berita ini dibuat nilai rupiah berada pada posisi 11.430,00 atau menguat 0,11 persen.

Hingga petang kemarin, Ringgit Malaysia menjadi yang terparah dengan depresiasi sebesar 0,30% menjadi 3,25 ringgit per dolar AS.

Analis dari PT SoeGee Futures menilai, meski punya kecenderungan menguat pergerakannya tak akan banyak. Menjelang FOMC (Fed Market Open Committee) pergerakan terbatas. Masih ada yang libur paskah.

Pekan ini pergerakan dolar bakal banyak ditentukan oleh hasil rilis data perekonomian AS, terutama data tentang pemesanan barang tahan lama atau durable goods order.

Belakangan data perekonomian AS memang membaik dan membuat pasar berspekulasi seputar kebijakan pengetatan stimulus moneter AS.

Namun FOMC yang melakukan meeting kali ini tak akan banyak mempengaruhi pergerakan dolar. Pasalnya sebagian besar pelaku pasar sudah mengantisipasi hasil dari rapat para petinggi the Fed tersebut, yaitu konsistensi the Fed dalam mengetatkan stimulus moneter untuk AS.

Sebagai catatan, FOMC di bulan April adalah pertemuan ketiga tahun ini dan akan digelar pada 29-30 April mendatang. Kecuali ada kejutan dari hasil rapat tersebut greenback tak akan bergerak terlalu signifikan.

Di sisi lain Kepala Riset PT Monex Investindo Futures mengatakan penguatan dolar juga ditopang ketegangan yang meningkat antara Rusia versus Ukraina.

Munculnya gerakan separatisme di beberapa kota Ukraina pascalepasnya Crimea membuat tensi di Eropa Timur itu memanas.

Analis menandai, setiap kali ada ketegangan politik dolar selalu menguat mengingat pasar masih menganggapnya sebagai salah satu safe haven.

Di sisi lain sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik memang tengah menghadapi berbagai situasi dalam negeri yang kurang menguntungkan bagi mata uang domestik.

Jepang misalnya, hingga petang kemarin yen tercatat melemah 0,15% terhadap dolar menjadi 102,58 yen per dolar AS.

Defisit neraca perdagangan Jepang tercatat melebar menjadi 1,45 triliun yen atau sekitar US$14,1 miliar sepanjang Maret.

Angka ini naik dari bulan sebelumnya, yaitu 802,5 miliar yen dan melampaui ekspektasi analis yang memprediksi defisit hanya mencapai 1,1 triliun yen.

Sementara itu sejumlah negara seperti Indonesia dan India sedang berada dalam proses pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum.

Kemarin, rupee India melemah 0,29% menjadi 60,46 per dolar. Adapun yuan China terdepresiasi 0,05% ke level 6,22 per dolar AS.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *